Jenuh dan Bingung, Pengungsi Dampak Tsunami di Lampung Pulang

SABURAI.CO.ID – Kini, para pengungsi dampak tsunami Selat Sunda di Teluk Kiluan, Tanggamus, Lampung, telah kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan yang rumahnya hancur terpaksa masih tinggal di pengungsian.

“Sudah dari malam tahun baru mereka kembali ke rumah masing-masing. Untuk pos pengungsian sudah tidak ada orang lagi,” kata sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanggamus, Maryani, dilansir Detik, Minggu, 6 Januari 2019.

Dia menjelaskan, bagi korban bencana tsunami yang belum memiliki rumah karena rusak sementara ini mereka masih mengungsi di kediaman saudaranya.

“Yang rumahnya rusak karena hantaman gelombang, mereka menumpang di tempat saudaranya. Kalau yang lainnya, mereka pulang ke rumah masing-masing,” kata Maryani.

Dia menambahkan, meskipun di pengungsian telah kosong, bantuan untuk logistik terus datang untuk memenuhi kebutuhan korban bencana tsunami tersebut.

“Masih ada yang berdatangan, seperti kemarin bantuan dari Polres Tanggamus. Warga juga sampai saat ini tetap waspada,” kata dia.

Jenuh dan Bingung

Warga Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa yang sempat mengungsi ke daratan Kalianda, Lampung Selatan mulai berangsur kembali ke tempat tinggalnya di pulau.

Dari pantauan di lokasi pada Sabtu, 5 Januari 2019, sore, puluhan warga Pulau sebesi yang sempat mengungsi ke daratan Kalianda lebih dari sepekan itu, terlihat hendak kembali menuju ke tempat tinggalnya, pulau yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau (GAK) menggunakan perahu motor melalui Dermaga Canti, Kecamatan Rajabasa.

Mereka kembali dengan membawa bekal seadanya, yang sempat dibawa saat mengungsi.

Sulaiman (43) warga Sebesi yang hendak pulang menuturkan, dirinya bersama beberapa warga Pulau Sebesi lainnya sudah merasa jenuh berada di pengungsian dan bingung harus berbuat apa.

Dia dan warga yang akan kembali lagi ke tempat tinggalnya di Pulau Sebesi selalu memikirkan kondisi rumah, hewan ternak peliharaannya dan juga lahan garapan yang sudah lebih dari sepekan ditinggalkan karena berada di pengungsian.

“Bingung saja di pengungsian, apalagi tidak ada yang bisa dikerjakan. Meski di pengungsian, tapi pikiran selalu di rumah terus. Memikirkan lahan garapan dan hewan ternak sapi dan ayam. Apalagi sudah sepekan lebih dtinggalkan, mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa,” ucapnya saat di Dermaga Canti, dilansir CNNIndonesia.

Sulaiman bersama puluhan warga lainnya memberanikan diri pulang ke rumahnya di Pulau Sebesi, karena mendapati kalau kondisi GAK saat ini sudah relatif aman dan aktivitasnya juga sudah mulai menurun, tidak seperti sebelumnya.

“Meski masih mengeluarkan asap debu aktivitas vulkaniknya, tapi kondisinya tidak seperti sebelum pascatsunami. Kami berharap, kondisi GAK ini bisa normal kembali dan warga yang tinggal pulau tidak khawatir lagi dampak dari letusan,” ungkapnya.

Senada dikatakan Asep dan Iwan. Mereka juga ingin kembali ke rumahnya di Pulau Sebesi, karena memikirkan kondisi rumah juga nasib hewan ternak peliharaannya, yang selama ini ditinggalkan pergi mengungsi akibat terjadinya gelombang tsunami.

“Kami berharap, mudah-mudahan hewan ternak yang kami tinggalkan tidak mati kelaparan. Hewan ternak itu tabungan kami jika ada keperluan yang dibutuhkan mendadak,” ungkapnya.

Sementara itu di Jakarta, terkait status Gunung Anak Krakatau, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan agar warga menghindari radius 500 meter dari tepi pantai atau pesisir Selat Sunda dengan elevasi rendah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Lokasi Relokasi Berubah, Warga Terdampak Tsunami di Lampung Selatan Menolak

Ming Jan 6 , 2019
SABURAI.CO.ID […]